Mendengar pembelaan kakeknya, Sultan memutar kepala. Pria itu menatap sosok yang sedang bicara dengan ibunya. “Tidak boleh ada yang merendahkan Atmadja. Pengkhianatan pada seorang Atmadja berarti perempuan itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Atmadja. Kamu tahu itu, Marita.” “Pa,” panggil Marita dengan suara lembut. “Nabila tidak akan pernah berani mengkhianati Sultan. Percaya sama aku, Pa. Saat dia sudah resmi menjadi istri Sultan—aku sendiri yang akan memantaunya.” Sultan sudah akan membuka mulut, namun kalimat-kalimatnya tertahan di ujung lidah begitu mendengar suara kakeknya. “Kenapa kamu sepertinya begitu terobsesi pada Nabila? Apa kamu tidak memikirkan perasaan putramu?” “Sultan pernah mencintai Nabila. Papa dan semua orang tahu itu. Tidak akan sulit bagi Sultan untuk m

