Kanker? Bagaimana mungkin? “Nabila, ayo kita ke dokter onkologi. Kita pastikan. Semoga saja cuma tumor.” Manajer Nabila mencoba menenangkan sang model . “Aku tidak mau. Aku tidak mau kena tumor. Apalagi kanker. Apa salahku sampai harus kena tumor atau kanker? Dokter ini pasti salah. Ayo kita cari dokter lain.” Nabila menguatkan hatinya. Dia harus percaya dia diagnosa dokter itu salah. Dia tidak kena tumor apalagi kanker. Mendengar apa yang dikatakan oleh Nabila, pria yang duduk terpisah meja dengan sang model mendesah. Sepasang mata pria yang sudah tidak lagi muda itu mengecil. “Silahkan cari second opinion kalau tidak percaya pada diagnosa saja. Tidak masalah. itu bagus. Sekalian saja coba periksa ke tiga atau empat dokter untuk lebih meyakinkan.” “Maaf, Dok.” Manajer Nabila merasa t

