Papa Nabila memeluk istrinya dari samping. Mengusap lengan sang istri, berusaha untuk menenangkan istrinya. Dia pun sebenarnya sama sedih seperti istrinya. Tapi, sebagai kepala keluarga dia dituntut untuk lebih tegar demi istri dan juga putrinya. “Hah …. kanker ... p******a?” Marita lemas seketika setelah mendengar penyakit Nabila. “Kami sedang menunggu hasil biopsi. Katanya 10 hari sampai dua minggu hasil itu akan keluar. Kami masih berharap kanker itu kanker jinak. Saat ini kondisi Nabila sangat kacau. Dia tidak berhenti menangis. Dia tidak bisa makan maupun minum. Dia benar-benar sedang hancur.” “Karena itu kami datang ke sini. Untuk memohon kebaikan hati kalian. Belas kasihan kalian sebagai sesama manusia.” Papa Nabila bicara panjang lebar. “Tolong bantu putri kami.” Sultan berulan

