Begitu taksi berhenti, sambil menahan sakit—Kansa segera masuk ke dalam alat transportasi roda empat tersebut. Dia tidak membawa apapun. Tidak dompet, tidak ponsel. Hanya tubuh. “Kemana, Kak?” Ditanya oleh sopir taksi, Kansa kebingungan. Pulang ke rumah Sultan? Sepertinya tidak mungkin. Dia tidak tahu apakah mama Sultan dan Nabila sudah pergi atau belum. Dia tidak mau mempermalukan Sultan lagi. Lagipula Sultan sedang marah besar padanya. Pulang ke rumah itu hanya akan memprovokasi kemarahan Sultan. Kansa menelan ludah. Pulang ke rumah orang tua Nabila jelas bukan pilihan. Lalu kemana dia harus pergi? “Kak,” panggil pria yang duduk di belakang kemudi. Kansa tidak punya pilihan, akhirnya ia menyebut satu alamat. Setelah itu taksi melaju—bergabung dengan banyak kendaraan bermotor lainnya

