Sultan tahu. Rasanya ingin egois, tapi, terlalu banyak yang akan menerima dampak dari keegoisannya. Kakeknya menerima Kansa, bukan berarti ia tidak peduli jika bisnisnya kacau karena skandalnya dengan Nabila. Sesulit itu ingin hidup normal saat nama belakangnya adalah Atmadja. “Sultan, sudah ya. Papa harus pergi sekarang.” Apa lagi yang bisa Sultan katakan selain, “Iya, Pa.” Begitu nada sambung terputus, Sultan yang sedang sangat kesal itu melempar pena di tangannya. Setelah itu ia menekan tombol speaker pada interkom yang terletak di sisi kiri meja. Mengepal dua tangan lalu memukulkan ke atas meja untuk melampiaskan sebagian dari emosinya. **** [Jam 7 siap di depan rumah. Aku tidak akan masuk ke dalam rumahmu] Nabila tersenyum lebar membaca satu pesan yang baru saja masuk ke ponseln

