“Semuanya.” Akhirnya Sultan menjawab. Dia ingin tahu semua. Bagaimana ibu dan pakde Kansa bisa berakhir di kantor polisi, dan bagaimana Kansa bisa kehilangan heelsnya. “Ibuku disekap orang. Diikat di kursi dan pakdeku berusaha menolong ibu. Dia memukul pria jahat itu hingga tak sadarkan diri dan kepalanya berdarah.” Kansa menjawab langsung. “Aku tidak kehilangan heels ku. Aku tidak bisa berlari cepat saat satpam rumah mantan calon istrimu itu mengejarku. Aku melepas dan melemparnya ke satpam itu.” Kansa mengatakannya dengan ekspresi wajah datar. Tidak memperlihatkan emosi yang sebenarnya sudah berkobar di dalam d*da. Jujur saja, Kansa tidak berharap apapun dari Sultan. Tidak simpati ataupun empati. Bantuan? Tidak sama sekali. Dia akan mengurus masalahnya dengan bantuan teman-temannya.

