Kansa menghapus air matanya. Pun dengan Sumi dan juga Niken yang langsung sibuk mengeringkan air mata yang membasahi pipi. “Ayo, kita pergi,” ajak Niken yang langsung meraih sebelah tangan Kansa. “Ayo, Bu. Kami antar kalian pulang.” “Atau mau pergi ke mana? Mau mencari tempat yang tenang? Kita bisa ke puncak. Bagaimana?” tawar Niken. Dia ingin menghibur hati Kansa dan ibunya yang pasti sedang sangat bersedih. “Benar. Kita bisa ke puncak. Keluargaku ada yang punya villa di puncak. Bagaimana?” tanya Adam seraya menatap Kansa. Sepasang mata pemuda itu sudah memerah. Kansa menggelengkan kepala. Mana bisa di pergi tanpa izin dari Sultan. Kansa menoleh saat merasakan elusan di punggungnya. Sang ibu pelakunya. Sesaat sepasang mata Kansa bertatapan dengan netra sang ibu, sebelum mengalihkan pe

