Bab 22.-2

702 Kata

Sultan menghembus napas lega setelah ayunan kakinya keluar dari ambang pintu kamar Kansa. Pria itu menutup kembali daun pintu lalu melanjutkan ayunan kaki. Seharusnya pesanannya sudah datang. Obat dan juga makanan. Perutnya sendiri sudah lapar karena baru terisi dua lembar roti tawar dengan selai sedari pagi. Sementara Kansa membelah sepasang bibirnya. Hembusan karbondioksida keluar dari celah mulut gadis tersebut. Ternyata ia hanya bermimpi bertemu ibunya. Mimpi yang terasa begitu nyata, hingga ia bisa mengingat perbincangannya dengan sang ibu. Kansa ingat apa yang ia adukan pada ibunya, dan nasehat-nasehat sang ibu yang membuatnya menghela napas. “Sultan itu suamimu. Dia yang paling berhak mendapatkan kesucianmu.” Bola mata gadis itu kini bergerak. Kelopak mata dengan bulu-bulu lenti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN