Suasana kamar pagi itu masih begitu damai. Jam menunjukkan pukul lima dini hari ketika Arcelia terjaga dari tidur lelapnya. Matanya mengerjap, lalu pandangannya jatuh pada sosok yang berada di sampingnya. Dante. Pria itu masih terlelap, wajahnya teduh namun rahangnya tampak mengeras, seolah bahkan dalam tidur pun ia masih menyimpan sisa bara dari malam panjang. Arcelia tersenyum tipis. Ada rasa lega sekaligus rindu yang menyeruak. Jemarinya terulur hati-hati, menyentuh rambut hitam yang berantakan di kening Dante. Sentuhan kecil itu membuatnya bergumam samar, lalu meraih pinggang istrinya dalam keadaan setengah sadar. “Jangan pergi,” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Arcelia terkekeh kecil, pipinya memanas. “Aku tidak kemana-mana,” balasnya lirih. Sejenak, dunia terasa begitu sed

