4 • Caluna Menghilang

1114 Kata
Malam itu, Dante duduk sendirian di ruang kerjanya. Di luar, Ibu kota dilanda hujan yang cukup deras. Lampu gantung kristal di atas meja menyinari wajahnya yang tenang, sementara layar ipad di tangannya memantulkan cahaya pucat ke mata yang tak bisa berkedip. Dante tersenyum tipis saat menerima laporan dari Arcelia mengenai persiapan pernikahannya dengan Caluna yang sudah berjalan 95%. Hanya tersisa agenda sebar undangan yang rencananya akan dilakukan besok pagi, lalu semuanya beres. Tinggal menunggu hari-H tiba saja. Jantungnya berdebar tak karuan. Akhirnya, waktu itu datang juga. Ia deg-degan, sekaligus tidak sabar menanti hari bahagianya bersama Caluna. Sebentar lagi, segalanya akan terasa sempurna. Dirinya, Caluna, Max, akan menjadi satu keluarga yang utuh dan sempurna. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan dari Caluna baru saja masuk, pukul 00.47. “Dante, saat kamu membaca pesan ini, kamu pasti sangat marah, kesal dan kecewa. Tapi Dante, I’m so sorry. Aku tidak bisa menikah dengan kamu. Aku mencoba bertahan demi pernikahan ini, tapi aku tidak sanggup lagi. Aku ingin mengakui sesuatu Dante. Bahwa selama ini ... sebenarnya ... aku tidak pernah mencintaimu, bahkan sejak awal. Aku tidak tertarik padamu sama sekali. Ya, benar, semuanya hanya kebohongan semata. Yang kuinginkan hanya satu: uangmu. Bukan hidup bersamamu, apalagi dengan anakmu. Dan ngomong-ngomong soal Max, maaf Dante aku tidak pernah menyukai Max. Dia tidak pernah menurut dan sangat menyebalkan. Aku tidak ingin menikah, tidak ingin punya suami, tidak ingin punya anak. Pernikahan bukan jalanku. Hubungan bebas dan uang, itulah hidup yang kupilih. Jangan pernah cari aku karena aku tidak akan kembali. Dan, terima kasih untuk semua uang yang sudah kamu beri selama ini, itu sangat cukup. Lebih dari yang aku inginkan.” Tangan Dante mencengkeram ponselnya kuat-kuat, begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Ia mencoba menelepon. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai puluhan kali. Tak ada jawaban. Nomornya tidak aktif. Ia beralih ke kontak asistennya. Sama saja. Semua lenyap, bagai jejak di pasir yang dihapus ombak. Dengan langkah cepat dan d**a sesak, ia melesat ke apartemen Caluna. Berharap wanita itu tidak serius dengan ucapannya. Namun, unit itu kosong. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Segala hal telah hilang—bersama perasaan Dante yang luluh lantak tanpa ampun. Apa kau benar-benar meninggalkanku dengan cara seperti ini, Caluna? Apa kau benar-benar hanya pempermainkanku saja? Tak bisa kupercaya .... 🥂 Pagi harinya, ia datang ke rumah orang tuanya. Wajahnya tak menunjukkan luka, tak menunjukkan amarah. Justru sebaliknya—dingin. Beku. Menyimpan badai yang belum meledak. Di ruang kerja sang ayah, buku-buku tua berjejer rapi di rak-rak kayu jati. Di atas meja terdapat cangkir kopi dan tehyang baru diseduh oleh pelayan rumah mengepul hangat. Tapi suasana yang menyelimuti ruangan justru membeku. Keluarga besar Danadyaksa telah berkumpul: Silvana, sang ibu; Axwel, sang ayah; Jendranata dan Raveno, dua adik lelaki Dante. Dante duduk tegak di hadapan keluarganya. Rahangnya mengeras. Tangan kirinya mengepal, dan tangan kanan menggenggam ponsel erat seperti menggenggam luka. Setelah diam yang cukup lama, ia menghela napas dalam lalu berkata, “Caluna pergi.” Semuanya tertegun. Tentu saja. Dua kata itu bagai petir di pagi hari. Jendranata dan Raveno bahkan saling melempar pandang mendapati kabar tak menyenangkan ini. Silvana mengernyit. “Apa maksudmu, Dante?” “Dia tidak berniat menikah denganku.” Wajah Silvana langsung berubah. “Jangan bercanda, Dante. Ini tidak lucu!” “Aku tidak sedang bercanda, Ma.” “Kamu sudah datangi apartemennya?” tanya Silvana. “Sudah. Tak ada siapa pun di sana.” “Sudah coba hubungi asistennya?” sahut Jendranata, cepat. “Sudah. Tidak aktif juga. Mereka seperti sudah merencanakan ini.” Suaranya tenang, wajahnya datar. Namun semua orang tahu—di balik wajah datarnya, Dante sedang terbakar amarah dan luka yang nyaris tak tertahankan. “Apa kalian bertengkar sebelumnya, Kak?” tanya Raveno, adik kedua Dante. “Sama sekali tidak.” Raveno memejamkan mata sejenak, mencoba mencerna kabar yang baru saja dijatuhkan seperti bom itu. “Tidak mungkin,” gumamnya. “Selama ini kalian terlihat... saling mencintai.” “Apa yang membuat Caluna memutuskan untuk pergi, Dante?” Silvana menatap anak sulungnya penuh tanya. Kabar ini terlalu menggegerkan dan kepergian Caluna jelas terlalu dadakan jika memang diantara mereka tidak terjadi apa-apa. Kecuali, sejak awal, wanita itu memang tidak pernah benar-benar menginginkan Dante. “Aku tidak yakin tapi ...” Dante menyodorkan ponselnya di meja, memperlihatkan chat panjang dari Caluna. Orang yang pertama mengambil ponsel tersebut adalah Jendranata. Wajahnya berubah tegang, tangannya mengepal hebat. Melihat itu, Raveno langsung merebut ponsel Dante, dan membacanya. Ia refleks mengumpat, “s**t!” lalu memberikan ponsel itu pada Silvana dan Axwel. Keduanya tertegun dan langsung menatap Dante lekat. “Apa-apaan ini, Dante?!” seru Silvana, marah sekaligus patah hati. Keheningan di ruangan itu berubah menjadi udara panas yang menyesakkan. “Dari awal aku sudah memperingatkanmu tentang Caluna! Lihat sekarang! Dia bukan hanya meninggalkanmu, tapi juga membawa kekacauan di H-7 pernikahan kalian!” “Aku akan membereskannya,” jawab Dante pelan. “Undangan belum disebar. Kita bisa membatalkan ini semua,” sela Axwel tegas. Namun, Dante menggeleng. “Tidak, Pa. Acara pernikahan akan tetap berjalan.” Semua orang sontak menoleh. “Jangan gila, Kak! Bagaimana kau tetap menikah tanpa mempelai wanita?” seru Jendranata. “Dan membuat Caluna merasa menang telah berhasil mencampakkanku?” Dante melayangkan tatapan tajamnya pada adik pertamanya itu. “Apa rencanamu sebenarnya, Kak?” “Caluna tetap akan melihatku menikah,” jawab Dante dingin. “Dante! Jangan memperumit keadaan!” bentak Axwel. “Kita akan batalkan semuanya. Ini bukan permainan sekedar untuk memuaskan egomu karena ditinggalkan!” “Tidak, Pa. Aku sudah memikirkannya semalaman.” “Dante Alle Danadyaksa!” Axwel kembali membentak. Kali ini nada suaranya lebih tinggi. Dante berdiri, menatap semua mata yang ada di sana. “Aku tidak ingin semua orang bertanya-tanya mengapa acara ini tiba-tiba batal. Dan lebih tidak ingin lagi jika sampai terendus kabar bahwa Caluna pergi meninggalkan aku. Bahwa aku dicampakkan. Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” “Dengan cara seperti ini?” tanya Silvana, nadanya lebih pelan namun penuh tekanan. “Dante, ini gila. Jangan libatkan siapapun dalam masalah ini. Mengerti?” “Aku akan bereskan semuanya. Percayakan padaku.” “Kau akan dianggap pria b******k karena menikahi orang lain dan bukan Caluna, Dante!” Silvana kembali mengingatkan anaknya yang sangat keras kepala itu. “Itu lebih baik, bukan?” Silvana hanya bisa memutar bola matanya kesal. Ia sendiri bingung. Entah dari siapa sikap Dante di turunkan. Anaknya yang satu itu bukan hanya keras kepalanya, tapi gengsinya juga tinggi. Sangat-sangat tinggi. Jendranata memijit pelipisnya. “Kalau begitu, setidaknya beri tahu kami siapa wanita yang akan kau bawa ke dalam permainan bodohmu ini, Kak.” Semua mata kembali menatap Dante. Sorot mata yang menunggu, menuntut, penuh tanda tanya. Dante menarik napas panjang. “Arcelia.” 🥂
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN