25 • Ultimatum Untuk Pulang

2095 Kata

Sore itu, udara di rumah Caluna terasa berat, meski tak ada percakapan yang berlangsung sejak lima menit lalu. Caluna duduk di sofa panjang mengenakan sweater putih lembut yang menutupi perutnya yang mulai tampak membuncit. Di hadapannya, Dante duduk dengan punggung sedikit membungkuk, tangan bertaut di antara lutut, rahangnya mengeras menahan sesuatu. “Aku tahu kamu ingin bicara,” kata Caluna lebih dulu, mencoba memecah sunyi. “Dan aku rasa... aku sudah siap mendengarnya.” Dante mengangguk pelan, matanya masih menatap lantai. “Aku cuma ingin... memperjelas semuanya. Tentang kita. Tentang kebersamaan ini.” Caluna tidak menjawab. Ia hanya menunggu. “Cal... aku berada di sisimu sejak kamu kembali bukan karena... kita,” ujarnya pelan. “Tapi karena kamu butuh seseorang. Karena aku tidak bi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN