Kamar itu… nyaris tidak berubah. Langit-langit tinggi dengan ornamen ukiran emas di sudut-sudutnya. Tirai putih tipis yang masih membingkai jendela besar menghadap taman tengah. Sebuah tempat tidur besar berkelambu lembut, lemari berlapis kaca tua, dan sebuah meja kayu jati tempat Arcelia dulu menulis puisi diam-diam saat malam. Aroma khas ruangan ini—kayu tua, bunga melati, dan entah apa lagi—langsung menyeruak begitu pintu dibuka. Aneh. Segala hal di sini seolah membeku dalam waktu. Seakan menunggu pemiliknya kembali. Arcelia berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya melangkah masuk. Suara langkahnya merambat di lantai kayu, menghantarkan nostalgia yang begitu padat. Ibunda mengikutinya dari belakang, tanpa berkata-kata. Arcelia mengelus pelan permukaan meja rias tua yang

