Sore menjelang petang, langit sudah mulai berwarna jingga. Angin berhembus lembut menyentuh wajah Alea yang baru saja tiba di depan sebuah rumah besar dua lantai dengan pagar hitam elegan dan taman kecil di depannya. Rumah itu masih sama seperti dulu—tempat yang pernah menjadi saksi awal kehidupannya sebagai istri Kaisar. Namun, kini rasanya berbeda. Ada jarak yang sulit dijelaskan antara dirinya dengan tempat ini. Alea berdiri beberapa menit di depan pagar, menatap setiap detail rumah yang dulu begitu akrab baginya. Ia bisa mengingat bagaimana dulu setiap pagi ia menyiapkan sarapan di dapur, membantu Mama Kristi menata meja makan, dan sesekali bercanda dengan Kaivan. Semua kenangan itu menyeruak begitu saja, seolah memanggil-manggilnya untuk kembali. Tapi langkahnya masih enggan maju.

