102. Ia Sungguh-sungguh Pergi

2387 Kata

Siang itu, langit Jakarta tampak teduh meski mentari sudah tepat di atas kepala. Di sebuah kafe yang cukup tenang dengan interior bernuansa kayu dan kaca besar yang menampilkan pemandangan jalanan kota, Kristi duduk di salah satu sudut ruangan. Tangannya meremas gelas berisi air putih yang tadi disajikan oleh pelayan. Sesekali ia melirik pintu masuk, menunggu seseorang yang kini memenuhi pikirannya. Tidak lama kemudian, pintu kafe terbuka. Alea masuk dengan langkah pelan, sederhana dalam balutan blouse putih dan rok hitam selutut. Rambutnya dikuncir rendah, wajahnya tanpa riasan berlebihan, tetapi sorot matanya jelas menggambarkan kelelahan. Begitu melihat Kristi, ia menarik napas panjang lalu menghampiri meja itu. “Mama sudah menunggu lama?” Alea berusaha tersenyum, meski lelah terlihat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN