"Donatur, nih, Bos! Kenalin. Cicit dari yang punya gedung gede itu!" Sambil menunjuk gedung pencakar langit yang dimaksud dengan lidah mendorong pipi bagian dalam. Kebayang?
Dia Malik, salah satu teman Rajen di SMA. Katanya sudah lama ingin kenal dekat dengan Rajen, tetapi baru tercapai sekarang sebab tak sengaja bertemu di sisi jalan—saat Rajen sedang parkir menatap gedung Luxe milik keluarganya.
Ngobrol-ngobrol di sana, lalu berujung Rajen dibawa ke sini. Tahu-tahu diperkenalkan sebagai donatur.
Sontak Rajen bersalaman dengan .... "Pak Idris, yang punya bengkel," ucap Malik.
Bapak-bapak berbadan kekar itu pun menyalami Rajen sambil senyum. Rajen berikan senyum serupa, ramah tamah seperlunya.
Dan ternyata dari bengkel ini sangat kelihatan gedung Atmaja Group, hanya memang terlihat lebih kecil daripada ketika Rajen melihatnya di sisi jalan tadi.
Tertanda, ini hari kemarin yang Rajen maksud. Sebelum pulang bawa-bawa kalung emas buat istri.
"Rajendra," ucapnya, memperkenalkan diri juga.
Malik tampak bangga sekali seolah membawa Rajen ke sini adalah sebuah anugerah termujur.
"Mari, mari, ke sebelah sini," timpal Pak Idris.
Wah, sepertinya ada kesalahpahaman fatal di sini. Rajen diperlakukan bak calon donatur betulan di bengkel beliau.
"Bu! Bikinin minum. Kopi, teh, atau s**u, Mas?" tawarnya ke Rajen.
Meski begitu, Rajen jawab, "Teh."
"Bu! Teh dua cangkir! Manis atau tawar?" Kembali bicara kepada Rajen di kalimat akhir.
"Manis, Pak."
"Teh manis, Bu! Satunya tawar buat Bapak!"
Malik sudah undur diri tadi, pamit lanjut kerja. Dia dapat shift siang ke malam. Hari itu Malik nobatkan sebagai hari paling bahagia dalam dirinya karena habis ini pasti kecipratan upah dari bos, berhasil menggeret keturunan orang paling berpengaruh di Tanah Air.
Bengkel Sudirja sedang butuh sokongan dana, sempat rapat mengandai-andai bisa mendatangkan donatur. Eh, Malik mewujudkan itu. Diliriknya sang kawan SMA yang sedang duduk di ruang tamu bengkel.
Tempat duduknya terbuat dari drum ukuran kecil, lalu mejanya adalah dua tumpuk ban mobil dengan triplek di atasnya.
Fyi, yang punya bengkel bernama Idris Sudirja. Istri beliau datang menyuguhkan dua cangkir teh di meja ban itu.
Rajen jadi pemerhati. Tempat ini kumuh selayaknya bengkel, penuh oli. Bagi Rajen yang terbiasa hidup di lingkungan bersih dalam arti serupa tinggal di kastil pangeran, dia agak kurang nyaman.
Yeah ... walaupun ini bukan tahun pertamanya menjadi orang miskin. Tapi sebelumnya, kan, kerjaan Rajen di toko kue sang tante, lalu freelance di Sastra Edu milik eyang pipi, habis itu bergelut dengan bisnis sendiri soal aplikasi.
"Sebenernya bengkel ini ramai pelanggan, Mas. Tapi kami kekurangan suku cadang dan alat-alat baru, untuk saat ini dana kami masih kurang sekitar ...."
Rajen dengarkan seolah dia mau betul-betul menyuntik dana.
Hei. Di sini bahkan daripada Pak Idris, Rajen lebih kesusahan. Lebih butuh fulus. Pak Idris butuh dana untuk suku cadang, Rajen butuh uang buat makan besok sekaligus jajan anak.
"Kami sangat berterima kasih berapa pun modal yang Mas Rajen tanamkan," rampung Pak Idris.
Rajen melirik Malik yang sedang bekerja. Pak Idris tampaknya sudah selesai bicara, maka Rajen mulai buka suara. "Sistem gaji di sini gimana, Pak?"
"Ya?" Pak Idris mengerjap sesaat, lalu sigap menjawab, "Oh, di sini gajinya harian. Per minggu dibayarkan."
"Sehari berapa?"
"Kalau di sini macem-macem, Mas. Montir senior bisa sampai seratus lima puluh ribu sehari, tapi montir pemula, ya ... minimal tujuh puluh ribulah. Ada lagi yang shift."
Kening Rajen mengernyit. Dalam hati nyeletuk, murah amat! Tujuh puluh ribu sehari cukup apa? Terlebih lokasi di Jakarta yang segalanya serba mahal. Bahkan uang jajan Rajen jauh di atas itu—dulu.
Sial.
Rajen manggut-manggut. "Apa nggak ada pekerjaan yang gaji seharinya bisa tembus jutaan?"
Pak Idris auto menertawakan.
Lucu, ya?
"Ya, ada, Mas."
Rajen berbinar walau tak begitu ditunjukkan.
"Jadi Mas Rajen, CEO gedung itu."
Damn.
Rajen mendengkus samar. Pak Idris haha-hehe.
Bentar, bentar. Bagaimana cara menyampaikan kemelaratan ini tanpa membuat malu diri sendiri, ya? Otak Rajen berpikir keras. Dia butuh pekerjaan, tetapi di sini tampaknya bukan tempat yang bisa memberinya gaji.
"Anu, Mas Rajen ... soal suntikan dana tadi, jadi gimana kira-kira?"
Rajen menyentuh telinga cangkir. "Sebenernya saya lagi dilatih mandiri, Pak."
Aha!
Rajen senyum. Menyesap sebentar cairan teh manis buatan si ibu. Biarpun kurang nyaman dengan tempatnya, Rajen merasa harus minum ini minimal seteguk.
"Ah ...." Pak Idris tampak kecewa. "Begitu, ya?"
Rajen mengangguk. "Tapi kalau Bapak mau kasih saya kesempatan, mungkin saya bisa di sini sambil ikut kerja dulu? Sekalian saya bantu Bapak kembangkan bengkelnya."
Itu omong kosong!
Kalian pikir Rajen bisa? Dan lagi, dengan cara apa? Tapi Rajen ini memang pandai bicara.
"Mungkin saya bisa mendatangkan investor?" Gaya amat, cui! Segala bawa-bawa istilah investor ke kalangan ini. Di satu sisi, Rajen bahkan belum tahu bagaimana caranya.
Namun, Pak Idris langsung menjabat tangan Rajen sambil tersenyum. "Deal, Mas."
Konyol sekali.
Tapi setidaknya ... "Kapan saya mulai kerja, Pak?"
"Besok boleh. Tapi gaji tujuh puluh ribu, ya. Bisa naik setelah ada investor."
"Oke." Rajen punya pekerjaan. "Apa bisa langsung kasbon?"
"Ya?"
"Bercanda." Rajen nyengir, kembali meneguk air teh. Tapi sebetulnya ... butuh.
Pak Idris tertawa, lalu teringat satu hal. "Apa Mas Rajen ada aliran otomotif atau bisa bongkar-pasang mesin kendaraan?"
Rajen dengan percaya diri menjawab, "Saya bisa belajar."
Heee?! Tampang Pak Idris mencerminkan keraguan dan keterkejutan. Seolah ... waduh!
"Di keluarga Atmaja, saya itu yang paling cepat bisa mempelajari hal baru. Bapak lihat aja nanti." Meski ogah bawa-bawa nama keluarga itu, tetapi apa boleh buat?
"Wah, wah ... kalau gitu begini aja, Mas Rajen. Selagi belum bisa dan masih belajar, Mas Rajen boleh datang aja, tapi digaji mulai setelah Mas bisa kerja. Atau setelah ada investor yang Mas bawa."
Artinya ... Rajen dapat peluang kerja, hanya saja belum pasti dapat gaji bulan ini.
Singkat cerita, Rajen pun langsung diperkenalkan kepada para montir sebagai calon anggota baru Bengkel Sudirja. Kalau lanjut, mulai besok Rajen boleh datang dan belajar ngemontir di sini.
Malik tiba-tiba nyeletuk, "Wah, wah ... bakal ada calon CEO yang menyamar, nih, di bengkel Pak Idris!"
"Mantap!"
Rajen nyengir tanpa mengoreksi.
Biar sajalah.
"Ini saya di sini dulu sekarang buat mempelajari, nggak pa-pa, kan?"
"Boleh, boleh. Nggak pa-pa." Pak Idris justru senang.
"Saya rekam, ya? Buat belajar di rumah."
"Oh, iya, iya. Silakan."
Pak Idris begitu pasti karena Rajen spesial. Labelnya 'cicit konglomerat'. Yeah ... tidak semua tahu bahwa Janardana Rajendra Atmaja sudah didepak.
***
Masih hari kemarin, Rajen sudah berkenalan dengan para pekerja di Bengkel Sudirja. Salah satu dari mereka yang banyak mengobrol dengan Rajen adalah Idam.
"Kalau nggak punya motor balapnya, apa bisa ikutan?" Sambil merekam pekerjaan Idam, Rajen lanjut pembahasan.
Ya, obrolannya mengarah pada konteks cara mendapatkan uang instan, Idam ternyata punya koneksi. Sayang, hal itu dari ajang taruhan bin balap liar.
By the way, rata-rata pekerja di sini manusia seumuran Rajen, ada yang masih bujang dan kebanyakan sudah menikah.
"Bisa, tapi paling kalo menang hasilnya bagi dua. Kadang kurang adil juga."
Rajen menyimak.
Idam mengganti baut.
"Besarannya dapet berapa itu kalau boleh tahu, pendapatan bersih semisal gak ada motor?"
"Ya, tergantung." Idam lalu mengalihkan tatapannya dari baut ke Rajen.
"Jujur, minat." Tanpa Idam suarakan pertanyaan yang terjabar jelas di raut wajahnya, Rajen sudah menginfokan duluan. "Tapi karena ini balap liar, otomatis nggak bisa pake motor yang di rumah, dan nggak bisa beli baru karena nanti kedeteksi keluarga."
Ngarang bebas, cui! Sesuka Rajen.
Ucapan Rajen seolah menjawab semua pertanyaan Idam yang belum dilontar.
"Kapan, tuh, balapnya, Dam? Boleh dikenalin ke orang-orang itu, nggak?"
"Nyamar jadi montir aja nggak cukup, ya, Pak CEO?" Idam menyindir.
Rajen tertawa. "Masa muda butuh tantangan, Dam."
"Jam delapan malem ini di Senayan."
"Oke, gas. Bareng aja. Gue di sini sampe malem, kok."
Wah ... langsung lo-gue bahasanya.
Idam lalu menghentikan sejenak pekerjaannya, menatap Rajen serius. "Kayaknya ini real minat, ya? Obrolan lo kedengeran sangat meyakinkan."
"Lha, dari tadi keliatannya nggak meyakinkan?" Rajen sungguh-sungguh.
"Oke. Kalo gitu nanti gue kenalin ke markas Bang Bendrong dulu."
Siapa, tuh?
Tapi Rajen setujui.
Dan tempat itulah yang membuat Rajen bisa pulang dengan upah lumayan, sampai dia sempatkan mampir di mal ibu kota yang masih buka—sebelum jam 22.00—untuk membeli kalung buat istrinya.
Namun, semua yang terjadi di sana tidak bisa Rajen ceritakan kepada Humaira. Di mana kini Huma menuntut penjelasan soal asal-muasal kalung emas di tangannya.
"Kayak mustahil ada orang sebaik Pak Idris sampe mau-maunya ngasih bayaran di muka, padahal kamu kerja bengkelan gitu udah jelas-jelas nggak ada bakat."
Benar. Itu yang menjadi jawaban Rajen, bahwa uang beli emas dia dapatkan dari bayaran di muka Bengkel Sudirja. Dengan sistem belajar dulu pula. Artinya, Rajen pinjam uang dari sana dengan jaminan tenaga kerja.
Tapi sisi lain, Rajen juga bilang masih pengin cari kerjaan selain di bengkel.
Gimana, sih!
"Ya, kan, aku spesial, Ra. Ada embel-embel cicit konglo yang mau belajar mandiri, jadi dikasih, deh."
"Pak Idris pasti mikirnya, semisal Rajen ngilang atau gak bayar, bisa ditagih ke perusahaan atau diviralin. Lagian tiga juta kecil bagi Luxe. Kan?"
Rajen tertawa. "Cicit konglo, aman."
"Kalau ke situnya masuk akal, sih. Cuma nggak nyangka aja kamu yang ogah-ogahan ngaku keluarga Atmaja, tapi—"
Tangan Huma dicekal hingga kata-katanya terputus. Rajen bilang, "Demi kamu. Soalnya hati aku sakit banget pas kemarin harus jual-jualin perhiasan yang istri aku pake."
Bibir Humaira mengerucut.
Rajen lalu merangsek maju dan mengecup.
Huma auto memukul. "Ada Bara, ih!"
"Nggak lihat, kok, dia."
"Ya udah, ini, pakein!" seru Huma sambil menjulurkan kalung barunya.
Rajen melebarkan senyuman. "Ayang udah nggak marah lagi, Ayang?"
"Berisik, ah! Buru!" Sambil berbalik, duduk memunggungi. Minta dipasangkan kalung itu.
Dan, yeah ... Rajen memasangkan kalung tersebut ke leher sang istri. Humaira memegang bandulnya sambil mesam-mesem.
"Tapi jangan sampe ini kalung ditagih, diminta balikin!" cerocos Huma kala tebersit pikiran bahwasanya ini kalung dibeli pakai uang hasil ngutang.
Huh!
"Aman, Mamud. Kan, Pamud bakal kerja. Tenang aja. Nggak bakal jadi utang."
Oke, deh. Huma pun kembali mengulum senyum. Percaya kepada suami.
Yang Rajen bisikkan setelahnya, "Dua ronde, ya, nanti malam."
***