76. Kekhwatiran Naina

1706 Kata

Ponsel itu mendarat di atas sofa dengan suara tumpul, terpelanting dari genggaman Livia. Napasnya memburu, d**a naik turun tak beraturan. Matanya masih menatap kosong ke arah layar yang kini sudah gelap, seolah bisa membakar gambar Chandra yang tertidur pulas di d**a Naina. "Sialan!" desisnya, suaranya rendah penuh amarah yang tertahan. Jari-jarinya menggenggam erat kain sofa, meremas-remasnya kuat. Dalam benaknya, dia sudah yakin, pasti Naina yang membalas pesan tadi. Bukan Chandra. Perempuan itu, pikir Livia, mulai berani mengendalikan Chandra. Dengan sengaja selalu menyelusup dalam setiap pertemuan mereka, seolah ingin memastikan tidak ada ruang privasi antara dia dan Chandra. Livia merasa Naina terlalu tinggi membusungkan d**a. Percaya diri berlebihan karena statusnya yang sebentar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN