[141] Galau

1167 Kata

"Maaf, ya, Bang." "Untuk?" "Karena kemarin-kemarin aku nggak bersikap dewasa." "Maksudmu yang bagaimana, Len?" Karena Wili rasa sejauh ini Marlena sudah cukup dewasa, meski terkadang suka timbul momen kekanak-kanakannya. Namun, itu justru bagian penghiburan dari istrinya yang Wili suka. Dia tidak pernah mempermasalahkan sisi ketidakdewasaan Marlena. Eh, Lena memeluknya, lalu berbisik, "Yang kapan hari aku nangis terus perkara belum hamil." Tak tahu saja Wili, semalam Lena melihat kesedihan di matanya. Saat Lena hendak masuk kamar yang memang pintunya sedang terbuka, di dalam sana Pak Wili didapati sedang melamun, lalu menyeka sudut mata. Apa beliau menangis? Tampaknya tak sampai begitu, hanya berembun saja sudut mata itu. Pikiran Lena langsung tertuju persoalan anak. Karena sampai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN