"Abang tau nggak, sih, kalo aku lagi ngambek?" Nuni menjeda pergerakan Genta yang hendak keluar dari mobil. Mereka sudah sampai di pelataran parkir butik tujuan. "Tau." "Terus? Udah, gitu doang?" Agak dongkol, by the way. Usaha Om Genta dalam meredakan kekesalan Nuni adalah dengan diam, selepas colak-coleknya Nuni abaikan. Tapi, kan, minimal ada usaha susulan. Ada rayuan apa, kek, gitu. "Nanti Abang peluk." "Nggak mau." "Abang traktir." "Nggak." "Abang cium?" Sambil Genta menahan senyum. Nuni tersentak. "Emang boleh?" Lho? "Ya, boleh nanti kalau udah sah. Makanya sekarang ayo kita fitting dulu." Sambil terkekeh. Begitu saja pipi Nuni memanas. Sebal, deh! Masa ngambeknya segini doang? Nuni merutuki diri sendiri. Di mana pintu mobil bagiannya dibukakan oleh Om Genta, lalu kepala

