"Ma, dulu emang Mama pas mau nikah sama papa ada acara pingitan juga, ya?" Soalnya, waktu membawa Hyra pada momen itu. Dia dan Julian tidak diperkenankan bertemu. Seolah yang 9 tahun kemarin belum cukup, ini ditambah lagi meski cuma beberapa hari. "Iyalah." "Kenapa, sih, mesti ada pingit-pingitan?" "Ya, biar dar-der-dor kangennya. Begitu tiba hari H nikah, kan, perasaan pengantin jadi membuncah. Pokoknya sensasinya itu, lho, Kak." "Tapi, kan, Kakak sama si Juli udah pernah dipingit sampe sembilan tahun, Ma. Apa kurang?" "Ya ampun, Kak. Kan, pingitan yang ini masih bisa chatting-an. Toh, cuma bentar juga. Nggak nyampe bertahun-tahun kayak pas itu. Lagian kemarin sembilan tahun itu bukan pingitan, keleus!" Ya, Hyra tahu. Bibirnya mengerucut. "Kenapa? Sudah kangen sama anak Om Jaya?"

