Hari itu Julian sangat senang karena semalam papi bilang agar dia mengundang teman satu gengnya untuk makan-makan di rumah. Disuruh mampir habis adu geng dengan Hyra. Mami juga bersedia masak enak dan banyak. Julian tinggal mengabarkan hal indah itu ke empat abang-abangannya. Bang Argo dan kawan-kawan pasti senang! Tertanda, jam-jam sebelum tiba pukul tiga sore. Masih di sekolah. "Kamu pasti kalah, Juli. Harusnya pas aku suruh mundur, kamu nurut. Malu, lho, kalau kalah." "Lebih malu mundur sebelum nyoba majulah." Julian pun memaparkan, "Pahlawan itu walau gugur tetap dikenang, Ndut. Tapi kalau sama sekali nggak turun ke medan perang, nggak bakal dikenang karena nggak jadi pahlawan." Percayalah, itu kata-katanya Bang Amar. Dan Julian merasa sangat keren bisa menjiplaknya untuk dikatak

