Udara subuh di pendopo utama masih basah oleh embun. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah dan bunga kenanga yang tumbuh di tepi taman. Di kejauhan, terdengar suara ayam jantan bersahutan, sementara adzan Subuh menggema lirih dari surau kecil di ujung halaman.
Raden Ayu sudah terbangun sejak azan pertama. Rambutnya ia gelung sederhana, dia sudah mengganti dres satinnya dengan dress katun di bawah lutut berwarna salem. Wajahnya tanpa rias, namun tetap berwibawa, anggun dengan kesederhanaan yang tak dibuat-buat.
Ia menatap sekeliling kamar beberapa detik. Sunyi. Tapi sesuatu terasa janggal. Jika teringat diposisinya dia terbangun. Ia yakin — semalam ia tidur di sofa. Tapi pagi ini, dirinya justru terbaring di atas ranjang besar itu, di sisi yang sama dengan Raden Arya.
Ayu mengerjap, mencoba mengingat. Tak ada bayangan jelas. Apakah Arya yang memindahkannya?
Tapi untuk apa? Lelaki itu terlalu angkuh untuk sekadar peduli.
Ia menarik napas panjang, menepis pikiran itu, lalu beranjak ke pawon¹.
“Mbok…” panggilnya pelan begitu memasuki dapur yang sudah dipenuhi aroma kayu bakar dan bawang merah yang ditumis.
Mbok Darmi, perempuan sepuh yang sudah mengabdi pada keluarga Adiguna sejak muda, menoleh sambil tersenyum.
“Lho, Raden Ayu… kok sampun tangi? Biasane wong enom ki durung semono esuke tangi, lho.”² Nada suaranya hangat, seperti seorang ibu yang menyambut anak gadisnya.
Ayu tersenyum kecil. “Hehehe… saya memang biasa bangun sebelum Subuh, Mbok. Lagipula… saya mboten kepengin nganggur. Boleh saya bantu?”
“Wah, niki baru namine Raden Ayu sejati,” canda Mbok Darmi, lalu menyingkirkan sedikit talenan kayu di meja. “Sini, bantu Mbok nyiapke bumbu lodeh. Eyang Kakung senang satur itu, apalagi kalau tau yang masak cah ayu.”
Ayu duduk di kursi kecil, mengambil cabai dan bawang yang sudah disiapkan. Tangannya cekatan, tapi pikirannya masih setengah melayang. Matanya sempat terarah pada tungku api — dan di sana, kilasan wajah Raden Arya semalam kembali muncul.
Tatapan itu, suara itu, cara lelaki itu memanggilnya “cah ayu”… Ia menggigit bibir bawah, menahan debar yang tak mau diakui.
“Raden Ayu?” panggil Mbok Darmi lembut. “kok melamun? Ada apa toh?"
Ayu tersentak kecil, lalu tertawa kaku. “Ah, mbok… maaf, Saya kelingan sesuatu.”
“Pasti mikirke Raden Arya, yo?” goda Mbok Darmi sambil terkekeh.
Ayu langsung menunduk, wajahnya bersemu merah tapi cepat-cepat menutupi. “Tidak, Mbok. Saya cuma… mikir Eyang Kakung. Biasanya Eyang Kakung ngapain saja setelah sholat subuh Mbok?”
Mbok Darmi menyeka tangannya dengan kain di bahu, lalu menjawab, “Biasane, Eyang Guna ngeteh di ruang utama, sambil maca koran. Kadang lihat ikan koi. Nanti jam enem, sarapan."
Ayu tersenyum, lalu mulai mengaduk bumbu di wajan. “Kalau begitu, biar saya siapkan teh hangat sama bubur sumsum untuk beliau. Eyang pasti senang.”
“Wah, ngaten lho, cah ayu…” Mbok Darmi terkekeh puas. “Siapa yang ndak suka sama samean Cah Ayu, Raden Ayu cantik, tangannya terampil, hatinya baik. Jadi kelingan almarhum Raras Prambayun, ibumu.”
Nama itu membuat Ayu menunduk. Suara lembut Mbok Darmi seolah membangkitkan kenangan yang ia simpan rapat. “Iya, Mbok…” suaranya lirih. "Mbok tau ibu saya?"
"Nggeh ngertos Cah Ayu, Mbak Raras Prambayun. Sering diajak kemari dengan Bapakmu, Brahmadewa“ lanjut Mbok Darmi.
Sunyi sejenak. Hanya suara wajan dan kayu yang berderak terbakar.
"Kalau Ibu masih ada, mungkin beliau akan bilang hal yang sama.” wajah sendu Ayu terlihat dari bayangan api di depannya.
Suara lembut Mbok Darmi tadi masih terngiang di telinga Ayu. “Nduk, kowe kuwi kuat. Gusti ora bakal maringi cobaan tanpa dalan metu.” Kata-kata itu menenangkan, tapi tidak cukup untuk menyingkirkan berat di d**a. Hatinya masih terasa sesak setiap kali teringat bagaimana nasibnya ternyata tak jauh berbeda dengan sang suami—sama-sama yatim piatu karena maut yang datang terlalu cepat.
Ayu menghela napas pelan, menegakkan tubuh, lalu menyiapkan teh untuk Eyang Kakung. Aroma melati dari teko porselen tua memenuhi udara. Saat ia mengantarkan teh itu, Eyang Kakung tengah duduk khusyuk mengaji di beranda belakang. Ayu menunduk, mengecup punggung tangan sang eyang dengan penuh hormat sebelum berpamitan kembali ke kamar.
Ia berniat bersiap—hari ini Eyang Kakung menugaskannya ikut ke kantor Maheswara Corp, tempat suaminya bekerja. Namun, langkah Ayu terhenti di depan pintu kamar. Tempat tidur sudah rapi, selimut terlipat. Tidak ada tanda-tanda Raden Arya di sana.
“Sudah bangun rupanya…” gumamnya pelan.
Ia hendak melangkah keluar, tapi kemudian suara lirih terdengar dari arah teras dalam kamar, di mana jendela terbuka sedikit. Suara itu… suara Raden Arya. Lembut, dalam, dan entah mengapa nada itu terasa berbeda.
“Ya, Sekar… nanti siang aku sempatkan ke pendopo. Jangan ngambek lagi, hm?”
Jelas siapa yang sedang di ujung telepon itu. Sekar. Wanita yang juga cinta pertama dari suaminya. Katanya.
Ayu menarik napas panjang, berusaha menahan gemuruh hatinya. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin memancing pertengkaran di pagi yang harusnya tenang ini. Ia memilih diam, seperti yang sudah-sudah melangkah masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan mengganti pakaian.
Namun, begitu keluar dengan hanya handuk putih melilit tubuhnya, ia mendapati Raden Arya masih di sana. Telepon masih menempel di telinganya, tapi matanya—mata tajam itu—tak lepas sedikit pun dari tubuh sang istri.
Langkah Ayu terhenti di depan meja rias. Uap lembap dari kamar mandi masih menempel di kulitnya, membuat kilau halus di bahunya yang terbuka. Ia berusaha acuh, mengambil sisir di meja rias seolah tidak menyadari tatapan pria itu.
“Aku sudah bilang jangan ngambek, Sekar. Kau tahu aku—” Suara Arya mendadak terputus. Ia menutup ponsel tanpa berkata apa pun, pandangannya tak beranjak dari Ayu yang sedang berdiri membelakanginya.
“Kenapa berhenti bicara?” tanya Ayu pelan tanpa menoleh.
Arya mengangkat dagunya, melangkah pelan ke arahnya. “Karena aku baru sadar… sepertinya aku sedang berbicara dengan orang yang salah.”
Ayu membalikkan badan, menatap suaminya lurus. “Oh, jadi sekarang aku yang salah hanya karena aku masih di sini?” suaranya datar, tapi matanya menyala.
Raden Arya mendekat. Setiap langkahnya membuat udara di antara mereka semakin tebal. “Kau tahu apa yang lebih salah, Raden Ayu?” suaranya turun, hampir seperti bisikan. “Istriku berdiri di depanku, tapi… berpura-pura tak peduli, seolah tak ada aku disini.”
Ayu menegakkan dagu. “Memang aku kenapa, Raden Arya?”
Laki-laki itu tersenyum miring. Tangannya terulur, tiba-tiba mengangkat tubuh Ayu dan mendudukannya di atas meja rias. Gerakannya cepat, tapi tidak kasar—lebih seperti luapan emosi yang tertahan.
“Apa yang kamu lakukan, Raden Arya?” tanya Ayu, suaranya bergetar tapi matanya tetap berani.
Arya menatapnya dalam, iris biru terangnya menggelap. “Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau membuatku seperti ini, hm?”
Ayu memalingkan wajah, tapi napasnya tak teratur. “Aku hanya ingin bersiap, bukan—”
Ucapan itu belum sempat selesai ketika Raden Arya menunduk, mengecup lembut bahu terbuka istrinya. Sentuhan hangat itu membuat Ayu menahan napas.
“Njenengan mau menggodaku, cah ayu?” bisik Raden Arya dengan suara rendah dan berat di telinganya.
---
¹ Pawon — Dapur
² Biasane wong enom ki durung semono esuke tangi, lho — Biasanya orang muda belum bangu..