73

1498 Kata

Ruang rias itu terasa sunyi meski dipenuhi cahaya. Raden Ayu duduk tegak di depan cermin besar berbingkai kayu tua. Jemarinya saling bertaut di pangkuan, dingin meski tubuhnya dibalut kebaya pengantin Solo basahan yang anggun—seperti pada bayangan di hadapannya kini. Kebaya beludru hitam berhiaskan sulaman keemasan membingkai tubuhnya dengan tegas namun lembut. Kain batik sogan membalut pinggang hingga mata kaki, motifnya klasik—warisan, bukan sekadar busana. Ronce melati menjuntai panjang dari sanggul bokor mengkureb, harum lembutnya menyusup ke napas Ayu. Cunduk mentul berjumlah sembilan, bergetar halus setiap kali ia menarik napas—seolah ikut berdoa. Mengiringi sakralnya hari ini. Sore ini, ia akan menjadi istri. Untuk yang kedua kalinya. Menyandang status itu. Dan semoga ini kali

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN