Ayu berdiri di tepi taman pendopo Wicaksana. Lampu-lampu kecil menggantung di sela pepohonan sawo kecik, memantulkan cahaya kekuningan di kolam dangkal yang tenang. Angin sore membawa aroma tanah basah dan bunga kenanga—menenangkan, tapi justru membuat pikirannya semakin riuh. Setelah pembicaraan serius tadi, dengan sengaja Ayu meminta waktu untuk berpikir. Dia meminta izin untuk keluar sebentar. Sementara para sesepuh dan juga Linggar masih berada di ruangan yang sama. Dirinya masih ingin menetapkan hatinya. Apa aku pantas? Pertanyaan itu berulang, menghantam batin Ayu tanpa ampun. Berputar di dalam otak kecilnya yang riuh menggaung. Statusnya sebagai seorang janda, adalah hal yang salah satunya membuatnya seakan terjegal jika ingin melangkah dengan pria sesempurna Linggar. Belum la

