Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Nea sudah berdiri di depan para dosen penguji dengan pakaian hitam putih dan sepatu hitam bak anak magang. Rambutnya sengaja ia kuncir kuda agar terkesan lebih percaya diri. Ruang sidang itu tak pernah terasa sedingin hari ini. Jantung Nea berdetak begitu keras, seperti ingin keluar dari rongganya sendiri. Ia tahu siapa yang duduk di meja penguji paling kanan, dengan jas gelap dan ekspresi tak tergoyahkan. Daska. Benar. Bukan sebagai kekasih tapi sebagai dosen penguji. Dan sejak awal, tatapannya tak memberi celah seolah ada rencana tersembunyi di baliknya. Nea pikir, setidaknya, ia akan bertemu dosen penguji lain yang lebih manusiawi. Namun ternyata, lagi-lagi takdir selalu membawa Nea pada Daska seakan dunianya hanya boleh ada lelaki itu, tida

