Dokter baru saja meninggalkan kamar setelah memeriksa Nea. Daska mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu mengelus pucuk kepala Nea yang kini terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya tampak pucat, nyaris kehilangan rona, setelah beberapa kali muntah—sementara perutnya masih saja terasa perih dan tak membaik. “Asam lambung kamu naik,” ucap Daska pelan, nadanya penuh perhatian. “Kata dokter, mungkin karena pola makan yang nggak teratur... dan stres yang numpuk akhir-akhir ini.” Ia merapikan selimut di d**a Nea, lalu menambahkan, “Mas juga udah hubungi Calmora. Kamu diizinkan istirahat dua hari penuh, jadi nggak usah mikirin kerjaan dulu, ya.” “Makasih, Mas,” gumam Nea lirih. Suaranya nyaris tenggelam di antara helaan napasnya sendiri. Matanya menyapu ruangan yang asing namun terasa han

