Namun Raymond langsung berdiri, dia refleks berdiri di samping Amara. "Amara. Kamu yakin mau bicara dengannya?" "Saya yakin, Pak. Karena ada hal yang perlu saya sampaikan kepadanya," ucap Amara dengan lantang. "Tapi saya tidak yakin jika dia memiliki niat baik," sahut Raymond yang entah mengapa tak suka melihat Hansen. Diah pun ikut berkomentar. "Iya Ra. Bener kata Pak Raymond. Apa kamu yakin mau bicara dengannya? Kenapa nggak dari awal dia bicara sama kamu?" Amara menatap Raymond dan Diah bergantian, lalu mengulas sebuah senyum tipis. "Tenang saja. Aku akan membalas sesuai dengan apa yang dia lakukan padaku." Hansen mendadak merasa gemetar, dia sering mendengar betapa mengerikannya Amara jika sedang mengamuk dari Farah. Namun saat ini, dia mengakui kebenaran ucapan sang kekasih.

