"Jangan panggil aku Tuan Ethan lagi, Lily," perintah Ethan, menatap matanya dalam-dalam. "Di sini, tidak ada Tuan Ethan. Hanya Ethan. Dan ini bukan perayaan bisnis. Ini perayaan kita." Ethan meneguk champagne-nya, kemudian mendekati Lily. Dia meletakkan gelasnya di meja kopi dan meraih tangan Lily. "Cinta itu berbahaya, Sayang," bisik Ethan. "Dan kita baru saja memenangkan pertaruhan terbesar untuk itu." Lily tersenyum, matanya memancarkan cahaya baru—cahaya penyerahan diri total. Dia meletakkan gelasnya juga. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan lagi tentang pelepasan stres, melainkan tentang perayaan cinta terlarang yang telah mengalahkan ancaman Victoria untuk sementara. Ciuman itu dimulai dengan penuh kemenangan. Ethan mencium Lily dengan gembira, seolah Lily adalah piala keme

