Udara hangat menyentuh kulit Aurora yang terbuka, membuatnya merinding sesaat. Tapi yang lebih membuatnya bergidik adalah pandangan Leo yang membara, tatapannya yang gelap dan penuh gairah padanya. "Kau luar biasa," desis Leo, jari-jarinya menekan paha Aurora. "Sekarang giliranmu," bisik Aurora menggoda. Tangan kirinya menelusuri perut Leo yang keras, merasakan otot-ototnya yang berkedut di bawah sentuhannya, sampai dia mencapai kancing celananya. Dengan jari-jari yang lihai, dia membuka kancing itu. Resletingnya mengeluarkan suara pelan yang terdengar keras di heningnya bukit itu. Leo mengangkat pinggulnya sedikit untuk membantunya. Celananya tidak sepenuhnya terbuka, tetapi cukup untuk memberikan akses. Dan itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada kata-kata yang diucapkan lagi. Bahasa

