Hazel membuka kedua matanya. Sepasang mata wanita itu mengedip. Beberapa detik kemudian, Hazel mengedarkan pandangan mata. Tarikan napas pelan wanita itu lakukan. Hazel memiringkan posisi berbaringnya. Memperhatikan dua laki-laki beda generasi yang sedang duduk di atas karpet tebal. “Archie tidak mau ini. Archie mau daddy.” Archie mendorong mainan di depannya. Anak itu sudah tidak menangis, namun kedua matanya masih merah. Dia ingin bersama mommy dan daddy nya. “Archie … aku daddy Archie.” Setelah Archie tidak lagi menangis, Oliver bisa memahami bahasa Archie, meskipun masih kurang jelas. “Bukan. Daddy Carlos. Archie tidak suka Uncle. Uncle berdarah. Archie takut darah.” Oliver menatap putranya. Tangan kirinya terangkat, menyentuh pipi yang entah seperti apa penampakannya saat ini. Dia

