Hazel sadar melawan Oliver bukanlah pilihan baik. Tapi, tetap berada di mansion pria itu juga adalah pilihan terburuk. Saat ini, dia hanya ingin bisa hidup dengan tenang. Menyelamatkan hatinya sendiri dan juga … bayinya. Semarah apapun dia kepada Oliver, bayinya tidak bersalah. Kesadaran itu yang membuat Hazel urung membuang janinnya tersebut. “Mason, aku ke tempatmu sekarang.” “Hazel, ada apa?” tanya Mason menyadari nada suara tak biasa Hazel. “Kita bicara nanti.” “Baiklah. Kita bertemu di apartemen.” Hazel menurunkan ponsel. Melempar benda penghubung tersebut ke kursi di sampingnya. Benda itu sempat menghantam senjata api yang sudah lebih dulu hazel lempar ke tempat yang sama. Hazel menghentak napasnya. Kakinya menekan lebih dalam pedal gas. **** Tom baru akan menghubungi seseor

