“Saya ikhlas menyerahkan Salma pada Pak Agung dan Bu Dyah. Jujur saya tidak sanggup jika harus merawatnya seorang diri. Apalagi sekarang saya sudah memiliki Istri baru. Saya harus bekerja ekstra keras untuk menghidupi Istri dan kedua orang tuanya.” Ucapan Ayah Salma tadi pagi masih membuatku sedih. Tega sekali dia berkata seperti itu. Rela kehilangan putri yang diperjuangkan istrinya hingga kehilangan nyawa hanya demi menikahi seorang kembang desa. Aku tidak mempermasalahkan tentang keputusannya menikah lagi. Namun, apa mereka tidak punya hati? Tega menyingkirkan bayi yang belum tahu apa-apa tentang dunia. “Honey, Adek kemana?” Mas Agung tiba-tiba duduk di sampingku. Saking asiknya melamun aku sampai tidak tahu jika suamiku telah pulang. “Jalan-jalan sama Bibik.” “Masih memikirkan Aya

