Alena berdiri di balik kaca mobil hitamnya yang berhenti di seberang jalan. Dari sana ia bisa melihat rumah besar milik Frans dan Celine yang tampak hangat diterangi lampu malam. Udara lembap selepas hujan membuat uap tipis naik dari jalan aspal, namun Alena tak bergeming. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh perhitungan. Di sampingnya, berdiri seorang wanita berusia awal tiga puluhan, mengenakan baju sederhana, wajahnya tampak gugup namun patuh. “Kamu sudah paham apa yang harus kamu lakukan?” suara Alena pelan tapi menusuk, seperti belati yang menyentuh kulit tanpa perlu banyak tenaga. Wanita itu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam. “Saya hanya perlu bekerja di rumah itu, lalu mencampurkan obat ini ke makanan ibu rumah tangga itu… Celine, ya, Bu?” “Benar,” jawab Alena datar, ma

