Pagi itu udara di luar penjara begitu dingin dan lembab. Hujan semalaman masih menyisakan aroma tanah basah yang menembus ke dalam ruang pertemuan narapidana. Alana duduk di balik meja logam dingin, mengenakan seragam tahanan warna abu-abu pucat. Rambutnya kini dikuncir rapi, dan meski wajahnya terlihat letih, matanya tetap memancarkan tekad yang keras. Pintu ruang pertemuan terbuka perlahan. Seorang pria berjas mahal masuk dengan langkah tegap. Ia membawa tas kerja hitam dan menatap Alana dengan ekspresi serius. Itu adalah pengacara yang baru ia sewa — bukan Dion, tapi seseorang dengan reputasi jauh lebih tinggi, seorang pria yang dikenal karena selalu berhasil memenangkan kasus mustahil: Rafael Dirgantoro, pengacara elit yang tak pernah kalah di meja hijau. Alana menyambutnya dengan se

