Bab 101

1620 Kata

Fabian duduk di kursi tinggi di ruang makan dengan wajah cemberut. Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca, dan tangannya yang mungil menggapai-gapai ke arah meja. Dari bibir kecilnya keluar rengekan pelan yang makin lama makin nyaring. “Eeeh... mmm... uaa... uaa...” suaranya melengking memecah kesunyian sore itu. Celine yang sedang memotong kue coklat di dapur langsung menoleh panik. Ia melihat putranya yang sudah mulai menggeliat di kursinya sambil menghentakkan kaki kecilnya ke udara. Pipinya memerah, dan air mata mulai turun dari sudut matanya. “Aduh, sayang, kenapa nangis lagi, hm?” Celine mendekat dengan langkah cepat. Ia menunduk dan mencium kepala Fabian yang beraroma lembut sabun bayi. “Mama baru sebentar motong kue, kamu udah nangis kayak ditinggal seharian.” Fabian hanya memba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN