Jay berdiri di halaman belakang sambil membawa mangkuk berisi nasi dan sup ayam, menatap Fabian yang berlarian seperti angin tak bisa ditangkap. Jay mengusap wajahnya yang sudah mulai kusut. “Fabian… ayo sini. Om Jay kasih makan, ya?” Jay mencoba bicara dengan suara paling lembut yang dia bisa keluarkan. Fabian berhenti satu detik. Satu detik saja. Lalu langsung kabur lagi sambil berteriak kecil, “Tidaaak mauuu!” Jay menutup mata sambil mendongak ke langit. “Ya Tuhan… kenapa anak kecil energinya kayak lima baterai HP yang baru dicas penuh begini?” Dari pintu belakang, Celine muncul sambil membawa jus jeruk. Dia melihat pemandangan itu dan langsung tertawa keras. “Kak Jay… dari tadi belum berhasil nyuapin?” Jay menatapnya dengan wajah lemas. “CELINE… anakmu ini larinya kayak dikejar ut

