Celine tiba di rumah Mama dan Papa dengan langkah pelan, perutnya yang semakin buncit membuatnya berjalan lebih hati-hati dari biasanya. Udara sore yang hangat menyelimuti halaman rumah, aroma bunga dan masakan rumah yang khas seakan menyambutnya begitu ia menjejakkan kaki. Pelayan membuka pintu dan menyapa dengan hangat, menunjukkan bahwa semua sudah siap untuk menyambutnya. Namun, hati Celine tidak sepenuhnya tenang. Ia membawa gelisah yang tak bisa ia sembunyikan, dan perasaannya semakin campur aduk saat memasuki ruang tamu di mana Mama sedang duduk membaca majalah sambil sesekali meneguk teh, sementara Papa sedang menonton berita di televisi. “Mama… Papa…” suara Celine terdengar sedikit gemetar saat ia menyalami kedua orang tuanya. Mama segera berdiri, mendekat, memeluk Celine dengan

