Frans baru saja memarkir mobilnya di depan restoran kecil di sudut kota itu. Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi cukup tenang untuk berbicara tanpa banyak gangguan. Begitu melangkah masuk, matanya langsung menangkap sosok Jay yang duduk di kursi paling pojok dekat jendela besar. Jay tampak menatap kosong ke arah luar, memutar gelas kopi yang sudah separuh dingin. Frans mendekat dengan langkah mantap, meski dalam hatinya ada sedikit ketegangan. Ia sudah menebak pembicaraan kali ini pasti penting, tapi tidak menyangka Jay akan terlihat setegang itu. “Jay,” panggil Frans perlahan. Jay menoleh cepat, lalu berusaha tersenyum. “Hei, Frans.” Frans duduk di seberangnya. “Kau kelihatan lelah. Ada apa? Semalam kau kirim pesan, aku pikir cuma urusan kecil.” Jay tertawa hambar. “Kalau urusan keci

