Celine berdiri di dapur dengan senyum puas yang tak bisa ia sembunyikan. Panci-panci masih mengepul, aroma bumbu rempah menguar memenuhi ruangan, dan meja makan di ruang tengah sudah tertata dengan sempurna. Hari itu ia sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, memutuskan untuk memasak sendiri semua hidangan favorit Frans. Ada udang saus padang dengan warna merah mengilat, ayam kecap manis yang mengeluarkan aroma karamel ringan, sambal hijau pedas yang menggoda selera, dan gulai kepala ikan kakap yang kuahnya kental dan harum santan. Ia bahkan menata meja dengan hati-hati, menambahkan bunga segar di vas kecil di tengah meja makan. Semua ia lakukan dengan satu tujuan sederhana—melihat suaminya tersenyum dan mendengar pujian tulus keluar dari mulut Frans. Setelah semua siap, ia melepas apron

