bc

Cita, Cinta, Matcha

book_age16+
76
IKUTI
1K
BACA
family
friends to lovers
neighbor
drama
sweet
bxg
lighthearted
brilliant
campus
city
highschool
civilian
like
intro-logo
Uraian

Lyra Kalista tak menyangka, popularitas itu datang begitu cepat padanya di usianya yang masih belia. Hidupnya berubah. Segala kemudahan dan fasilitas terbaik bisa ia dapatkan dimana saja tanpa campur tangan orang tuanya.

Ia menjadi selebgram dengan tarif fantastis berkat wajah cantiknya. Tapi tak hanya itu yang menjadi daya tarik Lyra. Kemampuannya menjadi story teller, dan hobi travelingnya membuat Lyra semakin digilai penggemarnya.

Tapi ayahnya yang keras melihatnya berbeda. Segala bahaya yang dilihat orang tua dalam pergaulan Lyra membuatnya memutuskan mengirim putri mereka pada Eyang putrinya yang keras di Jogja.

*

Refandika Surya tak menduga keisengannya dengan kamera ponselnya akan membawanya pada sosok cantik yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Dunianya berubah. Segala ketenangan hidupnya tiba-tiba lenyap.

Mengenal Lyra, membuat Refan memiliki kesibukan baru sekarang. Menjadi videografer. Kedengarannya keren. Tapi ia jengah melihat segala kepalsuan yang dipamerkan.

Perempuan itu, Lyra memang cantik. Tapi apa yang ditampilkan di sosial medianya berbeda jauh dengan Lyra yang sesungguhnya. Munafik. Begitu menurut Refan.

*

Hingga suatu hari, mereka terjebak dalam situasi yang tak mereka rencanakan. Nenek Lyra yang mendapati cucu perempuannya dekat dengan laki-laki memaksa mereka berdua untuk segera dinikahkan saja sebelum terjadi hal yang tak diinginkan. Lyra menolak keras. Begitu juga Refan.

Mereka tak memiliki ketertarikan satu sama lain. Kecuali sekedar hubungan profesional. Tapi ketika waktu membuat mereka terbiasa bersama, benih-benih cinta pun bisa saja tumbuh karena terbiasa. Apalagi para orang tua sudah saling menyetujui. Lalu, masihkah Lyra dan Refan mengingkari perasaan mereka dengan alasan mereka masih memiliki mimpi yang harus dicapai masing-masing?

***

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Selebgram
Lyra tersenyum lebar melihat satu foto yang baru saja ia posting langsung mendapat banyak likes dan komentar. Secepat itu dia mendapatkan engagement. Satu jam pertama, konon katanya adalah waktu krusial sebuah konten itu akan berhasil mendapat engagement tinggi atau tidak. Karenanya Lyra selalu memantaunya dengan teliti. Memperhatikan setiap angka yang berubah. Dia akan membalas setiap komen yang masuk pada satu jam pertama itu. Setelahnya, Lyra akan berpikir konten berikutnya yang akan ia kerjakan. Menuliskan setiap ide yang terlintas dalam catatannya. Lyra mulai belajar mengelola semuanya dengan profesional. Entah sejak kapan pastinya Lyra menjadi seorang selebgram. Kesempatan itu datang secara tiba-tiba tanpa ia rencanakan saat foto yang ia posting di sosial medianya tiba-tiba saja banyak mendapatkan engagement. Viral seketika. Dan Lyra tak akan menyia-nyiakannya. Meski untuk itu, ia harus mengorbankan sekolahnya. “Kamu itu sudah kelas dua belas, Lyra. Bukan keluyuran terus kerjaannya. Belajar. Biar besok gak bingung mau kuliah dimana,” ayahnya mulai mengoceh. “Lyra gak bingung kok. Lyra bisa kuliah dimana saja, gak masalah. Toh semua sekolah sama aja. Gak harus di universitas negeri juga,” jawab Lyra santai. Ayahnya hendak berbicara lagi, tapi ibunya meraih tangannya dan menggelengkan kepalanya. Lyra hanya tersenyum tipis sambil mengunyah keripik dan menatap televisi. “Ra, sayang lho sama masa depanmu sendiri. Masa mau maen terus gitu,” ibunya berbicara lembut. “Mama, Lyra juga bisa dapet uang banyak lho dari yang Mama sama Papa pikir itu main-main aja.” “Seperti itu tuh musiman, Lyra, gak bisa kamu jadikan pegangan sampai tua,” kata ayahnya. “Ya memang Lyra gak merencanakan sampai tua bakal bekerja terus, Pa. Capeklah.” “Maksud Papamu, Sayang, supaya kamu tetap mengutamakan sekolahmu.” “Iya. Lyra pasti lulus kok,” jawab Lyra malas. Ia sudah banyak melihat sekitarnya, mereka yang kuliah dengan biaya tak sedikit kemudian menganggur. Berebut pekerjaan sana-sini. Sementara Lyra yang masih berseragam putih abu-abu sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari sosial medianya. Bagi orang tuanya, apa yang dilakukannya mungkin tak bisa dikatakan bekerja. Profesi apa itu selebgram? Tak jelas tugas pokoknya. Setiap hari kerjaan anak itu hanya main dan bersenang-senang saja. Sibuk dengan ponselnya berjam-jam. Lyra bahkan tak serajin dulu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Hal itulah yang membuat kedua orang tuanya khawatir. Selain pergaulan Lyra di luar sana yang entah dengan siapa saja. * Malam sudah begitu larut saat Lyra menginjakkan kaki di halaman rumahnya. Ia tadi diajak salah seorang kawannya menghadiri sebuah pesta. Meski ingin menolak, tapi Lyra kemudian mengiyakan begitu saja karena memikirkan popularitasnya. Ia tak ingin dianggap kuper. Pesta itu memang dihadiri banyak selegram muda yang mengusung gaya hidup yang hedon. Orang tua Lyra sendiri tak pernah mengajarinya seperti itu. Dia mungkin menjadi yang paling cupu di antara mereka semua. “Pintar bener jam segini baru pulang. Anak gadis macam apa itu?” suara ayahnya terdengar tajam begitu pintu rumah dibuka. “Papa, jangan begitu. Dijaga lisannya,” ibunya meningatkan. Lyra menunduk. Seberani apapun dia, tetap tak ada nyali untuk melawan kedua orang tuanya. Dan ayahnya memang tidak untuk dilawan di rumah mereka. Karena semakin keras perlawanan, semakin brutal ayahnya menyerang. “Dari mana saja?” tanya ibunya lebih lembut. “Diajak teman ke pesta ulang tahun seseorang.” “Dimana? Kenapa bau rokok menyengat?” “Hmmm,” Lyra berpikir sejenak. Perlukah orang tuanya tahu jika ia baru saja masuk ke klub malam? “Dimana pestanya?” ibunya kembali pertanya. Lembut tapi tegas. Lyra masih bungkam. Tak ingin orang tuanya tahu ia sudah melihat bagaimana kehidupan malam anak muda seusianya. “Lyra! Jawab Mamamu,” ayahnya terlihat tidak sabar. “Butterfly,” jawab Lyra lirih. Ia tak pandai berbohong pada kedua orang tuanya. Dan sejak kecil pun ia tak diajari untuk itu. “Butterfly? Tempat apa itu?” pertanyaan ayahnya jelas penuh kecurigaan. “Sudah malam, Pa. Besok saja kita obrolin lagi,” kata ibunya. “Istirahatlah. Bajumu bau rokok. Kamu pisahkan dan cuci sendiri. Jangan lupa mandi dan cuci rambutmu, agar gak nempel ke sprei baunya.” Lyra ingin membantah. Tapi kemudian diurungkannya. Ia menunduk meninggalkan keduanya menuju kamarnya di atas. “Kamu tahu tempat apa itu? Jangan-jangan tempat dugem itu,” terdengar suara ayahnya bertanya pada ibunya. “Nanti kita cek bareng-bareng. Kalau benar itu tempat dugem, berarti kita punya PR bareng, Pa.” * Setelah pulang larut karena pesta dengan salah seorang selebgram, dan ketahuan orang tuanya, Lyra kembali lagi pulang tepat waktu. Sepulang sekolah, ia langsung pulang ke rumah. Beberapa endorse yang telanjur masuk, ia kerjakan di kamarnya. Ruangan atas yang jarang disinggahi kedua orang tuanya, menjadi studio dadakan yang ia gunakan untuk memproduksi konten. Lyra memang masih mengerjakan beberapa hal sendiri. Meski ia memiliki seorang kawan yang kerap ia minta tolong untuk mengedit dan mempercantik gambarnya. Tapi semua ide masih bersumber dari Lyra. Dia tak hanya berperan sebagai model. Tapi Lyra adalah seorang konten kreator. “Lo sudah harus punya tim deh, Ra,” celetuk Saras, temannya yang membantunya editing. “Kan ada elo.” “Gue mau kuliah. Gak mau ngikutin elo yang gak jelas.” “Kok gitu?” “Ya lo kan mau pro kan di sini? Jadi cari yang profesional juga. Lo gak mungkin kerjain sendiri semua.” “Lo gak suka kerja sama gue? Kurang gue ngasihnya?” “Bukan itu. Tapi gue beneran mau fokus persiapan kuliah. Kita ujian akhir dua bulan lagi.” “Kan pasti lulus.” “Iya. Tapi gue juga pingin lulus UTBK. Gue gak mau ah kuliah di swasta.” “Sama aja juga bayarnya sekarang. Beda tipis.” “Iya beda tipis. Tapi gaya hidupnya yang beda jauh. Ogah gue ketemu yang borju dan hedon gitu hidupnya.” Lyra menatap sedih sahabatnya. “Tapi kamu masih mau bantuin gue kan, Ras?” “Lo seriusan mau jadi selebgram aja?” Lyra mengangguk semangat. Dia sudah telanjur merasakan gurihnya penghasilan dari membuat konten, hingga merasa tak perlu lagi pusing-pusing memikirkan sekolah dan kuliah. “Tapi kamu harus tetep kuliah, Ra.” Lyra mencibir. “Seriusan deh, Ra. Dunia begitu cepet banget berubahnya. Takutnya lo nyesel nanti.” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menyala Istri Sah!

read
3.8K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
10.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.3K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.1K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook