“Naka, bisa tolong aku sekali lagi?” “Sorry, Ren. Setelah ini aku blokir nomor ini. Kamu bisa minta tolong suamimu sendiri. Jangan pernah menghubungi nomorku lagi.” Naka langsung menurunkan ponsel seraya menghentak napas cukup keras. Berani-beraninya Renata menghubungi dirinya. Sialan, memang. Naka langsung mengutak-atik ponsel beberapa saat tanpa sadar jika suasana menjadi hening. Baik Zahra, maupun kedua orang tuanya diam menatapnya. Naka geleng kepala. Suara lift berhenti membuat pria itu mengangkat kepala seraya tangannya meraih dorongan kursi roda--berniat mengayun langkah masuk ke dalam kotak besi. Saat itulah dia sadar jika sang istri sedang menatapnya lekat. Istrinya itu sampai menoleh lalu mendongak. Naka mengerjap. Pria itu buru-buru mendorong kursi roda masuk ke dalam li

