“Sayang … bangun, Sayang. Kita harus pergi.” Zahra tersentak mendengar suara yang sudah begitu familiar di telinganya. Suara suaminya. Sepasang kelopak mata wanita itu terbuka lebar. “Sayang, kita harus ke bawah lihat ibu.” Sepasang mata yang baru saja terbuka itu mengedip pelan. “Ibu?” Dengan jantung berdegup kencang, Zahra menatap bingung suaminya. “Iya. Bapak baru saja telepon, minta kita turun lihat ibu.” Mendengar dengan jelas jawaban sang suami, Zahra menelan saliva. Degup jantungnya masih terdengar kencang di telinganya sendiri. Napasnya tartarik dan berhembus beberapa kali lebih cepat dari biasanya. Naka membantu sang istri—membangunkan sang istri hingga istrinya tersebut duduk. Pria yang menggunakan satu lutut menumpu ke lantai itu memperhatikan wajah sang istri. “Are you ok

