“Naka … calon cucu Mama sudah ada, benar, kan?” tanya Naya sekali lagi dengan sepasang mata membesar. Naya buru-buru menutup mulut begitu melihat sang putra meletakkan jari telunjuk tangan kanan ke depan mulutnya. Naya memutar kembali kepalanya ke arah ranjang. Menatap sang menantu tanpa kedip hingga beberapa saat terlewat. Meskipun tidak mendengar jawaban dari mulut sang putra, namun gelagat putranya itu seolah membenarkan tebakannya. Zahra … anak menantunya itu kini sedang mengandung buah cinta dengan putra pertamanya. Oh … rasanya Naka ingin sekali menghampiri menantunya itu lalu memeluknya erat. Mengucapkan kata selamat. Tidak hanya itu. Dia juga ingin berteriak kencang. Namun, kakinya seakan terpaku pada lantai. Pun mulutnya tak bisa berkata-kata. Hanya sepasang mata wanita itu yan

