Gianna mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya. Kaget ya, Mas? Tapi sekarang udah cerai sih. Makanya, aku butuh kerjaan ini. Ya tapi tadi juga udah berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan nanti bisa dapet panggilan kerja. Ah, ya udah deh. Aku pamit pulang dulu deh, Mas. Nggak enak kan, kalau ganggu kerjaannya. Aku juga kangen anak. Baru hari ini aku tinggal soalnya. Biasanya sama aku terus karena aku juga kerjanya dari rumah. Paling tinggal nunggu panggilan interview kalau misalnya lolos. Permisi ya, Mas," ucap Gianna yang cepat-cepat pergi dari ruangan Sakha. Sakha diam termenung. Bukan tidak ingin mengejar tapi memang ia sedang bekerja dan tidak enak juga bila dilihat oleh bawahannya. Sakha menghela nafas dan kemudian tersenyum tipis lalu menghubungi nomor HRD perusahaan ini. "Iya,

