. Terkekeh, Ezra maju beberapa langkah mendekat ke pria itu. Bahkan, mereka masih mengenakan baju yang sama seperti yang dipakai saat datang ke showroom. Eka Harjaya terdiam. Tidak bisa berbuat banyak, selain membiarkan Ezra membuat perhitungan. Sebenarnya bisa saja dia memanggil bantuan. Anak buahnya banyak. Tapi, dia tahu semua akan berakhir sia-sia. Justru akan makin tambah pelik persetruannya. “Lalu, kamu tidak terima? Kalau belum siap kalah, jangan menantang. Kamu lupa saat mengembang tanggung jawab melindungi tuanmu, jangankan mata, nyawa pun bisa melayang. Kamu dibayar untuk itu! Paham!” Ezra menuding tepat di depan muka Yudha yang gemetar kaku. “Kita bertarung. Bukan cuma aku yang menyerang, tapi kita saling pukul. Kalau saat itu bukan kamu yang kalah, maka aku yang tepar merega

