Mendadak menghadapi kemarahan Zelda, tak urung membuat Langit kalang kabut. Apalagi sampai membuang cincin pemberiannya. Keluar dari ruangan dengan muka Zelda yang mau meledak, tak urung menarik perhatian orang-orang di sana. Tadi datang dengan rangkulan mesra pamer bucinnya. Sekarang malah pergi seperti habis berantem. Langit pilih diam. Tidak mengusik Zelda yang sedang emosi. Tahu, sekarang mau dijelaskan seperti apapun tidak akan masuk di nalarnya. Yang ada malah makin menjadi-jadi ngambeknya. Pintu lift terbuka. Siapa sangka justru ada Sadewa dan Vian di dalam. Mulut sepupu tengil Langit itu sudah mau mangap, tapi mingkem lagi begitu melihat Langit menggeleng pelan. “Bang …” Zelda masih menyapa Vian sopan. Suami Dokter Lean yang juga menduduki posisi manajer pemasaran di situ itu te

