Malam merangkak makin larut, ketika rumah Elang mulai ditinggalkan para tamunya. Hanya beberapa orang saja masih terlihat duduk, dengan obrolan yang memang tak boleh sampai di sembarang telinga. Xena datang sangat terlambat. Bahkan, ketika yang lain sudah berpamitan pulang. Bisa dibilang sengaja, karena ada hal jauh lebih penting harus dia buru malam itu juga. “Bagaimana?” tanya Naresh penasaran. “Ezra sedang menjemputnya. Paling sebentar lagi sampai. Darah lebih kental dari air. Sifat mereka benar-benar mirip. Sama keras dan menyebalkan. Aku sampai greget sendiri membujuknya!” dengus Xena mengulurkan ponsel ke Ibra. Elang yang duduk di samping papanya diam menyimak. Bukan, tapi mungkin karena masih syok dengan apa yang tadi disampaikan omnya. Sayang, dia terpaksa harus tutup mulut da

