Sore itu, suasana di lantai tertinggi sebuah gedung perkantoran besar terasa lebih lengang dari biasanya. Sebagian besar karyawan sudah mulai berkemas untuk pulang. Cahaya jingga dari langit senja menembus kaca besar di belakang meja kerja Dante, memberi gradasi lembut di ruang kerjanya yang modern dan rapi. Dante duduk di kursinya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca laporan yang terbuka di sana. Di depan meja, secangkir kopi sudah dingin. Ia memutar gelas itu pelan dengan ujung jarinya, pikiran melayang ke arah Reema. Hanya beberapa jam tidak bertemu, Dante sudah dilanda rindu. Baru saja ia berniat merapikan berkas, pintu ruangannya terbuka cepat. Hans muncul dengan wajah cemas. “Pak Dante!” Dante mengangkat kepala, sedikit terkejut dengan ekspresi panik asistennya. “Ada ap

