“Aku pergi school dulu!” Delica tersenyum melihat putranya berpamitan pada kakeknya, memberi pelukan dan cium pipi yang hangat. Ya, saat Papi sedang bisa pulang dan tidak ada kegiatan pengobatan, lebih menginginkan pulang ke rumah Delica dan Fabian. Kehadiran putra semata wayang mereka, membuat Papi jadi terhibur. Seperti yang dokter sampaikan, penting menjaga suasana hati dan pikiran Papi dalam kondisi kesehatannya sekarang. “Tempat minumnya, Bang Vian!” Delica mengambilkannya dan memberikan pada putranya. “Oh iya, hampir lupa!” ucap putranya yang kini makin tinggi. Delica mengulurkan tangan mengusap kepalanya. “Nanti yang jemput Papap lagi?” “Iya, Mamam temani Kakek dan Omami ke rumah sakit. Nanti Mamam siapin buat keperluan Abang les sore ya.” “Oke deh!” angguk Favian, kemudia

