Mobil yang dikemudikan Omara berhenti perlahan di tepi jalan kecil. Dari ujung sana, terlihat gang sempit dengan paving abu yang basah sebagian oleh sisa siraman air dari rumah warga. Beberapa anak kecil berlarian tanpa alas kaki, sementara seorang ibu menyapu halaman dengan sarung melilit di pinggang. Omara menurunkan kaca mobil, memandangi jalan itu dengan dahi berkerut kecil. “Gangnya kecil banget. Mobil nggak bisa masuk sampai dalam,” gumamnya. Reema yang duduk di kursi penumpang ikut menoleh. Pandangannya kosong sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Iya, gapapa. Kontrakanku cuma sekitar dua puluh meter dari mulut gang.” Omara menghela napas, lalu mematikan mesin mobil. Di dalam mobil, keheningan terasa. Reema masih menggenggam tas kecil di pangkuan, sementara tangannya y

