Mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen sekitar pukul dua dini hari. Jakarta masih basah sisa hujan hari sebelumnya. Lampu-lampu jalan memantul di aspal, menciptakan kilau samar yang melelahkan mata. Hans mematikan mesin. Ia menoleh ke belakang, melihat Dante yang sudah bersandar lemas, kepala menempel ke jendela. “Anda yakin nggak mau saya bantu bawain barangnya?” Dante hanya menggeleng pelan. “Enggak usah. Kamu istirahat aja. Besok pagi langsung ke kantor, minta bagian audit kirim semua data transaksi tiga bulan terakhir. Aku mau tahu siapa yang megang rekening itu.” “Siap, Pak.” Hans mengangguk, menahan komentar lain. Ia tahu dari ekspresi Dante kalau bosnya itu sedang dalam keadaan yang benar-benar lelah - baik secara fisik mau pun mental. Begitu keluar mobil, udara dingin

